Kamis, 20 Maret 2014

Situasi Yang Komplit

Menulis kembali di sini.. Untuk mengingat bahwa ini pernah ada benar2 situasi yang komplit. Komplit pusingnya, komplit capeknya, komplit belajarnya, komplit juga buat soal ulangan harianya, Lembar kerja siswanya, komplit juga ngoreksinya, komplit nyediain bahan ajarnya, komplit berkejar - kejaran dengan waktu dengan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang lumayan cepat karena mengharuskan diri berada dalam tempat yang berbeda. Ada kimia kelas X, kimia kelas XII, Matematika kelas X, Sosiologi kelas XI dan Geografi kelas XII 36 jam pelajaran dalam seminggu ditambah tugas sebagai operator sekolah.

Lumayan lelah setelah menjalaninya 1 semester, ditambah parah ketika semester genap dimulai...karena ada tambahan jam sore untuk bimbel kelas XII. Betapa tidak kerjaan bertambah banyak bahwa saya harus mengerjakan terlebih dahulu soal - soal UN. Dan bertambah lelah ketika saatnya 1 bulan menjelang UAN dimana siswa kelas XII hanya belajar 6 mata pelajaran yang di UN kan saja. otomatis jam pelajaran kelas XII yang biasanya 5 jam pelajaran per kelas mendadak menjadi 8 Jam pelajaran per kelas.

hari ini untuk kesekian kalinya mengeluh dalam kondisi yang komplit ini. Ingin berada dalam pilihan yang tidak terlalu banyak tapi maksimal. Mengajar pelajaran yang berbeda, beda juga  kelas dan tingkatannya menyimpan beban tersendiri. Shock berat juga ketika melihat hasil TDS siswa kelas XII walaupun bukan hanya mata pelajaran saya yang kondisinya memprihatinkan. Pelajaran yang lain juga sama. 

Hal lain juga timbul melengkapi situasi ini, yaitu upah mengajar yang tidak teratur di bayarnya. Sudah kering keringat yang di keluarkan tetapi imbal jasa atas apa yang kita lakukan mendapat respon yang lama. 2 bulan sudah upah ngajar tidak di bayar..dan dengan bulan ini akan bertambah jadi 3 bulan. Bukan berarti dengan pembayaran yang tidak berjalaan mulus itu akan mengurangi aktifitas dan semangat dalam menyampaikan ilmu hanya kadang hati tetap berkata "betapa menyedihkannya  ini". 

 Kadang memang hidup melupakan rasa syukur. Mengaca dari guru yang berada di sekolah terpencil sebenarnya situasinya lebih parah daripada guru yang berada di kota. Setidaknya disini fasilitas alhamdulilah tersedia. mau mengajar di lab, di perpus, mengajar dengan media pembelajaran juga disediakan sekolah. Honor yang tidak seberapa pun walaupun tertunda masih akan tetap di bayar itu masih lebih baik daripada mereka yang di Desa yang hanya di bayar lebih banyak dengan ucapan terimakasih dengan  ganjaran pahala (sukarela). 

Situasi ini, walaupun berat dan membuat stress... tetap mencoba bahagia tetap mencoba memahami ini adalah "kesempatan terbaik" yang Allah pernah berikan. Semoga apapun yang dikerjakan saat ini akan memberikan hikmah yang besar untuk pendewasaan diri, kemudahan dalam masa depan, dan pencapaian tujuan hidup yang mulia. aamiin






Senin, 17 Maret 2014

Kadang hidup diluar perkiraan

Oret - oret lagi disini setelah sekian lama hanya sibuk dengan segudang pekerjaan di sekolah, di rumah dan hobi yang juga menyita waktu (nonton film korea, hehehe).

Hanya menyimpulkan apa yang terlihat dan yang dirasa beberapa waktu terakhir ini..
1. Kadang memang kebiasaan yang buruk itu bisa berlanjut, walaupun bukan sekedar hal yang istimewa tapi tetap saja itu bukan hal yang menyenangkan. Hati - hati dengan teman yang mempunyai kebiasaan seperti ini. Seperti beberapa saat yang lalu : Maaf Sa aq gak datang ke acaramu karena sibuk, dll makanya kemaren aq sms kamu minta maaf (padahal nyatanyaa yang bersangkutan gak ada sms). Hanya hal sederhana saja "bohong" tapi yang namanya sudah kebiasaan  bohong jd terus - menerus "bohong" .

2. Yang terlihat baik di depan belum tentu baik di belakang... betapa tidak, orang yang saya kagumi beberapa tahun terakhir ini mempunyai kepribadian yang unik. Oh no... dy tidak menempatkan cinta untuk wanita.. tetapi hanya untuk yang sejenis saja. Bukan patah hati jadinya saya, tapi gila waktu tw berita ini.

3. Ternyata kebiasaan buruk saya kalau ngajar pukul - pukul papan tulis dengan penghapus supaya mereka diam dan memperhatikan saya kembali ketika saya mengajar itu bkan pengajaran yang baik. Menurut ilmuwan yang berkompeten di bidang pendidikan justru hal itu akan merusak konsentrasi anak2 dalam belajar...